Home besties about daftarisi tipsnulis petunjuk contact

Sabtu, 22 Maret 2014

Aku dan Dia

Dia hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang namanya kuketahui bukan lewat proses perkenalan, melainkan lewat rangkaian huruf yang tersemat di bajunya, yang kulirik diam-diam.

Dan yang kuketahui dari dia cuma namanya saja.

Aku dan dia hanya dua insan yang kebetulan menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentangnya—selain namanya, dan dia juga tidak tahu tentangku sedikitpun. Dan, aku juga tidak berminat untuk menelusuri tentangnya lebih jauh. Karena bagiku dia hanya seperti sepoi angin yang berhembus menenangkan untuk sesaat...
Lalu pergi lagi.

Hal yang sering kami lakukan cuma beradu pandang dalam detik-detik yang jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, lalu kami sibuk lagi dengan aktivitas masing-masing. Tetapi, aku baru sadar bahwa ada satu hal dari dia yang benar-benar tak biasa.
Senyum simpulnya tak pernah terlepas dari bibirnya.
Harus kuakui, dia benar-benar memikat.

Tapi aku tetap pada prinsipku. Aku tidak akan menelusuri hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Biarlah hubunganku dan dia tak lebih dari ‘kawan satu sekolah’. Biarlah aku dan dia hanya bisa saling pandang sesaat kalau bertemu secara tak sengaja. Biarlah aku dan dia tetap saling berbicara dalam hati, lewat hening dan sunyi. Biarlah tak ada kata yang bisa kukenang dari bibirnya.
Biarlah, aku tak peduli. Aku janji, aku tak akan pernah peduli.

Sampai akhirnya, hari itu datang dan semuanya berubah.

Di hari itu, realita benar-benar mengejutkanku. Aku baru sadar bahwa takdir bisa saja memutarbalikkan prinsipku. Aku, yang tak pedulian ini, dan dia, yang aku sendiri tak tahu manusia dari mana, seketika saja bisa dipersatukan. Aku sendiri masih tak menyangka hal gila yang tak terbayangkan terjadi pada hari itu.

Pada hari itu, aku, entah kenapa, untuk pertama kalinya, bisa mengucapkan satu kata ini padanya.

Hai.

Sudah terbayang di benakku bagaimana dia akan merespon kata yang diucapkan oleh gadis aneh yang tak tahu apa-apa sepertiku. Paling-paling dia hanya tersenyum kecil sebentar, lalu kembali dengan aktivitasnya.

Tapi aku salah.

Dia menjawab sapaanku barusan dengan wajah bahagia dan bersemangat.

Dari kata ‘hai’ yang sepertinya tak bermakna itu, kami bisa langsung dekat. Semua hal yang ada di sekitar kami selalu menjadi topik menarik untuk dibicarakan. Dan kali ini, dari dekat, aku bisa melihat senyum simpulnya yang menawan itu.
Lebih jelas, lebih lama, lebih berkesan.

Aku salah kalau dulu berjanji tak akan mencari tahu apapun soal dirinya. Aku salah kalau dulu pernah berpikiran bahwa dia tipe manusia pasaran yang banyak diobral di pasar. Aku salah besar. Dan yang benar-benar tak terduga, pada hari itu kami membuat memori-memori yang harusnya tak pernah terjadi. Oh, Tuhan ... aku masih tak menyangka akan mengingkari prinsipku sendiri.

Hari itu, kami menjelajah ke seluruh tempat sampai penat menerjang, bertukar cerita sampai suara serak, tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit tak terkira, menahan kantuk mati-matian supaya bisa tetap bersama, mengeluarkan seluruh isi pikiran dalam kata-kata yang sebetulnya tak bermakna, dan, entah kenapa....
Oksigen yang kuhirup seperti bercampur dengan kebahagiaan saat aku bersamanya.

Dia satu-satunya orang yang pernah kukenal, yang bisa menularkan kebahagiaan hanya dalam sekejap tatapan mata. Padahal, aku tahu, hidupnya berat, tetapi dia tak sedikitpun menunjukkannya. Dia kuat. Dia hebat, hebat sekali. Diam-diam rasa kagum merayap ke dalam diriku, menjalar ke seluruh tubuh dan tanpa sadar aku mempraktikkan semua ajarannya.

Ya, semua ajarannya.

Dialah orang yang mengajarkanku untuk menyampaikan keluhan dengan senyum lebar dan tawa. Dialah yang mengajariku untuk tetap berharap meski nyaris tak ada peluang untuk mewujudkannya. Dialah yang mengajariku untuk menghargai semua yang telah diberikan Tuhan, walaupun aku tak suka. Dialah yang mengajariku untuk tetap percaya walaupun ketidakyakinan terus mengejar. Juga, dialah yang mengajariku untuk pandai-pandai melupakan duka yang melanda.

Aku tahu, nyaris tidak mungkin baginya untuk membaca tulisan ini. Dan kalaupun dia membaca post ini, amat kecil pula peluangnya untuk menyadari bahwa orang yang kumaksud adalah...
Dia.

Tetapi aku tak peduli. Yang jelas, aku ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya padanya. Terima kasih sudah mau mengenalku. Terima kasih sudah mau mencampurkan kebahagiaan dalam udara yang kuhirup. Terima kasih sudah mengajarkanku arti penting hidup. Terima kasih sudah mau mengajakku tertawa riang bersama waktu itu. Terima kasih, terima kasih sekali. Maaf aku tidak bisa membalasnya dengan apa-apa...
Aku hanya bisa berdoa saja, semoga kebahagiaan yang indah segera menyambutmu dengan ramah.
Sekali lagi, terima kasih, ya. I’m so glad to know you.

Akhirnya, semua berbeda sekarang.
Kalau kami bertemu, yang kami lakukan bukan hanya beradu pandang, tapi juga memanggil dengan sapaan hangat. Senyum simpulnya masih tak henti-henti terulas di bibirnya. Tak pernah berhenti, dan semoga saja tak akan pernah hilang walaupun waktu terus berjalan.

8 komentar:

  1. Ba to the gus. Banget. Banget. Banget. Baaanget *lebay tea*

    BalasHapus
    Balasan
    1. ma to the ka to the sih. makasih. makasih. makasih. maaaakasih! :D :p

      Hapus
  2. Balasan
    1. Engga naksir kok kak, cuma terkesan doang, abisnya dia baik banget sama aku :D :p

      Hapus
  3. saya suka, saya suka

    *kata Mei-mei

    BalasHapus

Terima kasih bila sudah menyempatkan diri untuk berkomentar! 💕 :)

No captcha, no moderation, and no login here! Tinggal isi kolom komentar lalu publish, sesimpel itu! Bisa juga pakai anonim jika diperlukan (tho I don't recommend it) :).