Dia hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang namanya kuketahui bukan lewat proses perkenalan, melainkan lewat rangkaian huruf yang tersemat di bajunya, yang kulirik diam-diam.
Dan yang kuketahui dari dia cuma namanya saja.
Aku dan dia hanya dua insan yang kebetulan menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Aku sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentangnya—selain namanya, dan dia juga tidak tahu tentangku sedikitpun. Dan, aku juga tidak berminat untuk menelusuri tentangnya lebih jauh. Karena bagiku dia hanya seperti sepoi angin yang berhembus menenangkan untuk sesaat...
Lalu pergi lagi.
Hal yang sering kami lakukan cuma beradu pandang dalam detik-detik yang jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, lalu kami sibuk lagi dengan aktivitas masing-masing. Tetapi, aku baru sadar bahwa ada satu hal dari dia yang benar-benar tak biasa.
Senyum simpulnya tak pernah terlepas dari bibirnya.
Harus kuakui, dia benar-benar memikat.
Tapi aku tetap pada prinsipku. Aku tidak akan menelusuri hal-hal yang berhubungan dengan dirinya. Biarlah hubunganku dan dia tak lebih dari ‘kawan satu sekolah’. Biarlah aku dan dia hanya bisa saling pandang sesaat kalau bertemu secara tak sengaja. Biarlah aku dan dia tetap saling berbicara dalam hati, lewat hening dan sunyi. Biarlah tak ada kata yang bisa kukenang dari bibirnya.
Biarlah, aku tak peduli. Aku janji, aku tak akan pernah peduli.
Sampai akhirnya, hari itu datang dan semuanya berubah.